Rabu, 19 Desember 2018

SETAN DALAM GEREJA?


By: Agni Ardi Pratama
18 December 2018


Lukas 4:33-34 (TB) 
Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:
"Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."

Shalom,
     Hari ini masih dalam suasana Natal, mudah-mudahan teman-teman semua dalam keadaan sehat walafiat dan penuh sukacita. Yogyakarta khususnya daerah sekitar Ukrim terus terang agak sepi tanpa kehadiran kalian. Sebagai 'penjaga' Jogja, doa saya, semoga walaupun di kampung halaman susah sinyal namun tergantikan dengan kehangatan silaturahmi dengan bapak, mamak, adik, kakak dan teman-teman masa kecil yang sudah tidak imut lagi. Biarlah HP pintarmu itu cuti sebentar yaa...biar nggak cepet stroke dia :)

Karena sepi itulah, yang akhirnya menginspirasi saya menuliskan mengenai hal yang berbau horor. Bukan tentang penampakan di kampus Ukrim maupun kamar mandi Sttii. Biarlah para kuntilanak dan pocong-pocong bermain di sana tanpa gangguan dari kita.

Eh..iya saya beritahu ya, para makhluk itu sensitif dan biasanya kalau mereka nggak benar-benar sibuk mereka akan datang kalau kita bicarakan atau pikirkan jrenggg... Tapi jangan takut, sadarlah kita ini milik Tuhan. Takutlah kalau kamu masih menghamba pada yang di luar Tuhan Penciptamu. Sedikit petunjuk, bernafaslah dengan santai sebelum membaca lebih lanjut..

Saudara dan teman-temanku, mungkin sebagian besar dari kita pernah punya pertanyaan begini, "Apakah di dalam Gereja ada setan? atau Apakah saat kebaktian ada setan yang ikut nimbrung?"

Kita akan jawab dari catatan Alkitab yang berkaitan dengan pertanyaan di atas. Lukas 4:33-34, itulah jawabannya.

Ayat 33 memberitahukan bahwa ketika Tuhan Yesus mengajar di dalam rumah ibadat, salah seorang pendengarnya ada yang berteriak karena kerasukan setan. Rupanya setan ini kurang berbakat dibanding atasannya yang mencobai Yesus di padang gurun (info: atasannya juga sudah kalah telak, ketika Yesus disalib, mati, dan bangkit)

Mereka gemetar ketakutan, sebab yang dilihat dan didengarnya ternyata bukan guru kaleng-kaleng. Berarti sebelum Yesus datang setan ini juga terbiasa berjamaah bersama orang-orang saleh lainnya?  Saya yakin jawabannya iya, alasannya, Yesus belum mengusir setan sebelumnya. Jadi jemaah di Kapernaum belum mengenal Yesus, sehingga tidak mungkin secara sengaja setan yang merasuki itu datang untuk cari gara-gara dengan Yesus. Yesus sangat ditakuti para setan karena Yesus bisa membinasakan mereka (lihat ayat 34).

Sebagai tambahan coba saudara renungkan, setan itu roh bukan? Dan yang bisa membinasakan roh itu siapa?
Penghulu malaikat yang bernama Mikhael saja tidak bisa. Jadi Yesus lebih hebat dari penghulu malaikat?
Dalam bagian kitab lain di dalam Perjanjian Baru yang dituliskan oleh rasul-Nya menyatakan bahwa jangan takut kepada mereka yang bisa membinasakan tubuh/daging tetapi takutlah akan Dia yang bisa membinasakan baik daging maupun roh.
Kalau begitu, siapa Yesus?

Sebagai penutup, berdasarkan apa yang sejarah catatkan. Setan ada di dalam Gereja, dan mereka hanya gemetar kalau di dalam Gereja ada Yesus.

Apakah di gereja Saudara ada Yesus?

Shalom

MENDIDIK UNTUK BERIMAJINASI


By: Dr. Markus Budiraharjo, Med
Dosen Magister Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Sumber: Kolom Opini, Kedaulatan Rakyat, 9 Juli 2018. Hal. 11.

Diprediksi bahwa 85% pekerjaan pada tahun 2030 belum ada saat ini. Artinya, dalam waktu 12 tahun ke depan, jenis-jenis pekerjaan tertentu akan hilang, dan jenis-jenis pekerjaan baru akan bermunculan. Pekerjaan rutin dan teknis akan tergantikan oleh aplikasi.

Tahun lalu, untuk mendapatkan tiket bioskop, kita masih terus antre. Tahun ini, dengan aplikasi dari Go-Tix, pembelian tiket menjadi lancar. Dampak positifnya, pelanggan bisa meraasakan kenyamanan. Transaksi bisa di mana saja. Dampak negatifnya, jumlah tenaga yang melayani pembelian menjadi turun. Di satu sisi, penggunaan teknologi meningkatkan pelayanan dan kemudahan. Di lain pihak peluang kerja menjadi terpangkas.

Revolusi industri 4.0 merupakan fenomena global yang secara pelan dan pasti telah menciptakan lanskap dunia kerja yang sangat berbeda. Jaringan penjualan berbasis online Amazon, misalnya, telah mengujicobakan pengiriman barang (di bawah 2 kg) dengan menggunakan drones. Untuk mengecek ketersediaan barang di gudang yang sangat besar, Wall Mart memanfaatkan drones yang akan memindai setiap bar codes, Dan mengirimkan hasilnya ke basis data. Pemindaian manual oleh tenaga manusia membutuhkan waktu minimal tiga hari kerja, dengan tingkat akurasi di bawah 90%. Dengan drones khusus, pekerjaan selesai dalam waktu tiga jam, dengan akurasi data 100%. Ada ribuan inovasi yang ditemukan, diterapkan, dan sekaligus menggusur tenaga manusia.

Tantangan
Ada begitu banyak kritik terhadap sistem dan pengelolaan pendidikan. Istilah Paulo Freire yang banyak dikutip adalah banking concept of education. Ini adalah metafora untuk menunjukkan bahwa pendidikan disederhanakan dalam penguasaan pengetahuan deklaratif.
Belajar dikatakan berhasil bila siswa mampu menguasai serangkaian pengetahuan yang dihafalkan.

Peter Tubman (2009) menyoroti model kepatuhan pada model tunggal. Analisis wacana kependidikan terhadap berbagai kebijakan pendidikan di Amerika mencerminkan fenomena kepatuhan tunggal macam ini, yang bisa dikatakan sama seperti di Indonesia. Tubman menemukan sejumlah persoalan kronis di Amerika, di antaranya: kekakuan birokrasi dalam bentuk ujian nasional, kekeliruan dalam menggunakan buku teks, kurikulum baku yang gagal tanggap zaman, dan kooptasi dunia bisnis dalam pengadaan buku teks dan soal-soal ujian.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah keyakinan dasar di benak kita sendiri. Tidak sedikit dari generasi saat ini yang meyakini bahwa model pendidikan yang paling baik adalah yang saat ini sedang berlangsung. Belajar sama artinya menguasai serangkaian pengetahuan deklaratif. Belajar dikatakan berhasil bila siswa berhasil mendapatkan nilai yang tinggi. Sekalipun sistem ranking di kelas telah secara formal dihapuskan, tetap saja para orangtua membutuhkan informasi tentang posisi anaknya dibandingkan dengan anak-anak yang lain.

Teori personal mengenai konsep pendidikan macam itu sangat menentukan dalam membentuk sikap dasar terhadap belajar. Yang dinilai penting adalah pengukuran eksternal, bukan sesuatu yang secara pribadi memberikan kebermaknaan. Yang dikejar adalah pengakuan publik, bukan sesuatu yang secara internal mendewasakan. Belajar menjadi sekedar mengikuti apa yang dikatakan baik oleh orang lain, bukan sesuatu yang diolah di dalam hati.

Belajar dan Berimajinasi
Steve Wozniak, rekan kerja Steve Jobs, pendiri Apple Computer, adalah sosok penting di balik teknologi layar sentuh. Salah satu kesukaannya adalah membaca komik dan novel-novel sci-fi. Dari berbagai cerita yang dibacanya, juga kecintaan terhadap matematika dan elektronika, dia bercita-cita untuk menerjemahkan apa yang ditampilkan di kisah-kisah komik dan novel-novel tersebut ke dalam realitas.
Teknologi IPhone dan IPad adalah terobosan buah kerja keras Steve Wozniak bersama Steve Jobs. Hari ini, teknologi smartphone telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Wosniak bermimpi untuk mewujudkan apa yang diimajinasikan pada tahun 1950-an menjadi kenyataan pada hari ini.
85% pekerjaan baru dalam waktu 12 tahun ke depan menuntut tenaga kerja yang bisa berpikir dan berimajinasi. Kebiasaan belajar yang ditargetkan untuk menjawab pertanyaan guru atau soal-soal ujian saja tidak cukup. Revolusi industri 4.0 membuka peluang bagi mereka yang memiliki kebiasaan berpikir imajinatif, kreatif, dan eksploratif. Era millenial hari ini memaksa kita semua untuk meredefinisi konsep mendidik. Belajar dari para tokoh pembentuk zaman, kunci utama terletak pada literasi, atau keterampilan membaca dan memaknai pengalaman hidup. Seberapa mampu generasi kita mendampingi dan menemani generasi berikut untuk mengantisipasi tantangan zaman?

Senin, 03 Desember 2018

SILATURAHMI BUKAN SALAHTURAHMI

By: Agni Ardi Pratama
4 Desember 2018

Amsal 25:17
Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu.

Shalom,
Dalam peribahasa Jawa ada berbunyi: witing tresno jalaran saka kulina (rasa cinta muncul karena terbiasa). Bukan soal urusan cinta antara manusia saja, tapi ruang aplikasinya bisa juga ke pendidikan, pekerjaan, atau adaptasi lingkungan yang baru dan sebagainya.

Maksudnya, sesuatu yang dirasa berat di awal akan menjadi lebih enak jika terbiasa dengannya. Misal, mandi di pagi hari. Bagi sebagian besar mahasiswa hal seperti ini berat, tetapi akan menjadi berkurang beratnya ketika setiap hari dilakukan. Perasaan terpaksa akan terkikis dari hari ke hari bahkan berubah jadi cinta dengan kegiatan itu.
Tetapi pendapat saya pribadi, peribahasa tersebut tidak sepenuhnya benar, walaupun benar juga. Sebagai contoh, nyatanya orang-orang Jakarta yang setiap hari menghadapi macet tetap mengeluh bahkan mengarah ke frustasi bukannya mencintai kemacetan. Simplenya, hasil dari 'sering' tidak pasti hasilnya baik.

Raja Sulaiman/Salomo, yang adalah raja Israel paling berhikmat yang pernah hidup di muka bumi, memberikan nasihat cara bergaul. Salah satu caranya adalah dengan tidak sering berkunjung ke rumah teman. Jadi, kalau kita aplikasikan peribahasa Jawa di atas dalam konteks ini, rasanya kurang pas. Bukannya kita semakin akrab dengan teman tetapi malah dibencinya kita.
Jadi, ukuran berkunjung yang cukup itu seperti apa?
Tidak dijelaskan lebih lanjut oleh raja Sulaiman. Kalau saya, seminggu sekali itu cukup. Kenapa? karena kebanyakan orang punya banyak kesibukan dalam 6 hari. Saat dalam hari sibuk, mereka butuh konsentrasi agar bisa mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik.

Nah, sekarang ini jaman sosmed, kita sudah jarang ke rumah teman, cukup chat saja dengan mereka?

Chat juga jangan keseringan. Setiap kita butuh ruang untuk sendiri, seberapa pun menonjolnya temperamen ekstrover teman. Seberapa baik dan perhatiannya teman kita. Mereka butuh ruang pribadi bebas gangguan. Karena bisa jadi, mereka menanggapi chat kita karena tidak ingin dicap sombong, padahal yang sebenarnya dia sudah lelah dengan kita.
Tanda teman mulai bosan dengan kehadiran kita mudah sekali dideteksi, salah satu yang sering kentara adalah respon yang semakin kurang dari sebelumnya.

Mari kita terus belajar meningkatkan kualitas silaturahmi dengan teman agar jangan sampai berujung salahturahmi. Amin

Tuhan Yesus memberkati.

Senin, 19 November 2018

DAMPAK STRESS PADA HIPOTALAMUS

By: Agni Ardi Pratama
Mahasiswa Teologi-Konseling Kristen
UKRIM
Yogyakarta, 20 November 2018

Shalom,
    Manusia yang lahir di dunia umumnya pernah mengalami stress. Bahkan mungkin kita sendiri sering dibilang orang stress dan anehnya kita nggak terima dibilang begitu. Padahal dalam hati mengakui, kalau lebih dari itu hayoo...
   Jadi, apa itu stress?
Pendeknya adalah suatu keadaan tidak seimbang pada mental manusia, lebih banyak tegangnya, susahnya daripada santainya,senengnya.
Penyebabnya faktor eksternal. Misal, stress diputus pacar akibat ketahuan 'selingkuh dengan temen doi' duh... Stress beda dengan cemas. Kalau cemas disebabkan faktor internal. Misal, cemas kalau suatu saat pacarnya 'ditikung temen' akibat LDR-an, padahal itu belum atau tidak terjadi.
   Orang stress ada levelnya. Stress ringan, stress menengah, dan stress level berat. Salah satu cara mengetahuinya bisa dengan mengisi kuisioner tes Holmes.    
   Efek stress ada yang baik dan ada yang merusak. Dikatakan membangun jika stress itu tidak berkepanjangan dan membuat seseorang termotivasi untuk belajar menjadi lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih mengandalkan Tuhan. Sebaliknya, yang merusak adalah stress berkepanjangan dan merusak, menurunkan fungsi otak secara permanen. Ginjal masih bisa dicangkok, tapi untuk saat ini pencangkokan otak maupun stem cell otak masih dalam tahap penelitian para ilmuwan medis. Repot sekali, kalau otak kita malfungsi permanen.
    Salah satu kerusakan otak akibat stress yaitu rusaknya bagian otak yang bernama Hipotalamus. Begini penjelasan dari Dr. Frank B. Minirt:
  ''Hipotalamus mengendalikan sistem saraf otonomik yang mempengaruhi banyak organ tubuh, berbagai otot lembut, dan tanggapan viskeral terhadap stress. Karena stress, seseorang siap untuk maju atau lari ketika organ-organ tubuh dan hormonnya dipengaruhi oleh sistem saraf otonomik yang diatur oleh hipotalamus. Sistem saraf otonomik juga mempengaruhi gairah seksual dan orgasme. Pendeknya, hipotalamus mempunyai banyak fungsi yang terpengaruh ketika orang mengalami stress:
- Detak jantung.
- Pencernaan.
- Pengendalian kencing.
- Persepsi sensor.
- Sistem endokrin.
- Gangguan psikomotorik.
- Amarah.
- Seks.
- Agresi.
- Suhu tubuh.
- Kebiasaan makan.
- Rasa haus.
- Kesadaran.
- Pola tidur.
- Ritme-ritme biologis.

Stress yang terus-menerus dapat mengakibatkan berbagai abnormalitas permanen pada fungsi tubuh yang sering diistilahkan sebagai gangguan psikosomatik(jasmani sakit akibat mental sakit/tidak seimbang).''

Bagaimana Saudara, masih ingin menjalin hubungan romantis dengan stress? Memilih Move on dari stress atau punya otak tapi rusak permanen?  :)

Tuhan Yesus memberkati.
   

Minggu, 18 November 2018

KEKUATAN GABUNGAN 2 TUJUAN YANG SAMA


By: Agni Ardi Pratama
Mahasiswa Teologi-Konseling Kristen
UKRIM
Yogyakarta, 19 November 2018

Shalom,
   Kebiasaan lama yang sering terulang, saya sering berhenti mencari topik untuk penelitian skripsi gara-gara ada topik yang lebih menarik. Seperti hari ini, dimana segenap niat dan tekad sudah terisi penuh eh... ada topik yang sayang banget kalau dilewatkan. Saya menemukannya di salah satu buku favorit judulnya ''Mengejar Kebahagiaan'' yang ditulis oleh seorang psikiater. Namanya bapak Frank Minirt. Beliau menuliskan begini:

   ''.....Dr. Glasser menyatakan bahwa dua orang dipersatukan karena satu dari tiga alasan berikut-- Kecepatan (percintaan dengan kecepatan daya tariknya), Kualitas (persepsi bahwa orang lain adalah orang yang berkualitas, entah secara sosial atau jabatannya), atau Kedalaman (tujuan hidup bersama). Yang terakhir merupakan ide yang bagus. Mengapa kita tidak mendasarkan kehidupan perkawinan di atas sebuah tujuan hidup yang sama?

Lagi, Beliau menambahkan:
    ''....Otak memiliki lebih dari seratus miliar sel, dan setiap sel memiliki sampai seratus ribu sinapsis. Kekuatannya sungguh menakjubkan. Ia menentukan hidup dan mati kita. Semua kekuatan otak tersebut dapat diarahkan pada satu titik untuk memenuhi sebuah tujuan yang mengatasi segala-galanya. Betapa besar kekuatan yang dihasilkan manakala kita bergabung dengan pasangan kita untuk mengejar sebuah tujuan! Dan, tujuan itu akan memiliki makna yang kekal tatkala menjadi sebuah tujuan demi Kristus.''

Nah, menarik bukan? Setiap dari kita tentu mendambakan pasangan hidup yang kriterianya beda-beda antara satu sama lain. Sebab menikah dan berkeluarga bukan sekedar seminggu dua minggu. Orang yang menjadi teman hidup artinya teman seumur hidup. Oleh karena itu, saya setuju sekali pendapat Pak Glasser dan Pak Frank Minirt, Tujuan yang sama dan tergabung itu dahsyat untuk  sistem keluarga Kristen yang sehat. Harusnya itu menjadi kriteria wajib. Namun, jangan diabaikan juga pasangan hidup harus yang lawan jenis ya hehe.. Bagaimana menurut Saudara?

Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 17 November 2018

KISAH PARA RASUL 3:12


By: Agni Ardi Pratama
Mahasiswa Teologi-Konseling Kristen
UKRIM
13 Juni 2018

"Petrus melihat orang banyak itu lalu berkata: "Hei orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?"

  Setelah rasul Petrus menyembuhkan seorang lumpuh secara ajaib. Maka orang-orang di sekitar yang menyaksikan kejadian itu merasa heran. Petrus dikagumi luar biasa, sebagai "orang yang lebih" dari orang biasa.
Hebatnya rasul Petrus tanggap atas respon orang-orang itu. Petrus menjelaskan bahwa bukan dengan kuasanya atau karena kesalehan hidupnya. Petrus membeberkan rahasia kesembuhan ajaib itu pada Kis. 3:16, bahwa karena kepercayaan dalam Nama Yesus. Petrus sadar bahwa dirinya hanyalah alat-Nya, jadi yang harus mendapat kemuliaan bukan dirinya melainkan Dia yang membuat alat. El-Shadai.

Sabtu, 08 September 2018

KESEPIAN DAN TIPE KEPRIBADIAN



BUKU : MENGEJAR KEBAHAGIAAN
HAL : 129-130
BY : FRANK MINIRT, M.D.



Setiap kepribadian dapat memiliki gejala kesepian. Karenanya, seorang konselor kiranya dapat membantu Anda untuk mendapatkan berbagai teknik guna mengatasi penyebab tertentu kesepian di dalam tipe kepribadian Anda.
Orang dengan kepribadian Obsesif-Kompulsif memiliki karakter perfeksionis, dingin, gila kerja, keras kepala dan merasa tidak aman. Mereka orang yang rapi, bersih, teratur, dan patuh. Mereka selalu bersungguh-sungguh dan sangat cermat. Mereka kerap bekerja sangat keras hingga sulit meluangkan waktu untuk bersantai. Mereka memiliki perhatian terhadap segala hal dan nurani yang sangat kuat. Untuk menangani hal ini, mereka menggunakan akal sehat guna menghindari emosi. Orang dengan kepribadian obsesif-kompulsif cenderung sangat penuntut. Mereka perlu mengendorkan diri. Mereka perlu lebih terbuka terhadap orang lain dan membiarkan orang lain mendekat supaya tidak menjadi kesepian.
Orang dengan kepribadian Histeris kerap kali terlalu emosional dan kelihatannya sangat terbuka. Kadang kala mereka mudah sekali menjalin relasi fisik, tetapi kedekatan emosional yang mereka dambakan justru tidak terpenuhi. Kiranya baik bagi mereka untuk mengolah kedekatan emosional yang sehat sembari menetapkan batas-batas tertentu di dalam bidang seksual.
Orang dengan kepribadian Paranoid yang terlalu mudah menaruh curiga lebih baik berusaha menunjukkan kepercayaan, belas kasih, pengampunan, dan kasih Allah ketika mereka mengusahakan kedekatan dengan orang lain.
Orang dengan kepribadian Garis batas, yang memiliki ketidakstabilan berkaitan dengan suasana hati, relasi, dan citra diri, perlu mengubah tipe pemikiran mereka yang ekstrem atau hitam-dan-putih. Mereka perlu menyadari bahwa orang lain tidak sepenuhnya orang kudus atau sepenuhnya pendosa, tetapi berada di antara kedua ekstrem tersebut. Memiliki suatu cara pandang yang seimbang dapat membantu kita untuk menjadi dekat dengan orang lain.
Beberapa kepribadian (Narsistik dan Sosiopatik) bersifat berpusat pada diri sendiri dan bukan pada orang lain. Akan baik bagi mereka untuk berusaha berfokus kepada orang lain.
Orang dengan kepribadian Pasif-agresif hendaknya mengolah setiap perilaku mengalah yang justru membuat mereka kesepian.
Pengenalan kepribadian Anda melalui konseling dapat membantu Anda untuk mengatasi pola perilaku maladaptive yang sudah membatu, yang berperan dalam memunculkan rasa kesepian. Seorang konselor yang bijak dapat sangat membantu.